Senin, 08 November 2010

GALABO........


 
Kesibukan Jalan Mayor Sunaryo, Solo, berganti seiring dengan terbenamnya matahari. Tidak ada lagi kendaraan yang lalu lalang. Yang ada hanyalah jajaran penjaja makanan dengan gerobaknya serta meja-kursi bertenda yang terpasang di sepanjang satu kilometer jalan itu.

Mereka adalah para penjaja makanan lezat di kota itu, dari selat solo, sosis solo, wedang ronde, mi godok, sampai dengan tengkleng.
Galabo—Gladak (nama wilayah) Langen (kesukaan) Bogan (makanan) – pusat wisata kuliner kota Solo, nama tempat itu, diresmikan pada April lalu. Sejak peresmian itu pula, Galabo menjadi salah satu tujuan wisata orang dari luar Kota Solo. Tidak perlu repot-repot lagi, bukan, mencari makanan-makanan lezat yang tadinya terletak di tempat yang berjauhan?
Jalan Mayor Sunaryo termasuk jalanan sibuk di kota itu. Tempatnya strategis, di situ ada Pusat Grosir Solo (PGS), yang menjadi pusat belanja oleh-oleh selain Pasar Klewer, tidak jauh dari Pasar Klewer, hanya beberapa menit saja dari Keraton Surakarta, dan berbatasan langsung dengan jalan utama Kota Solo, Jalan Slamet Riyadi.
Menilik lokasinya, kawasan jajanan ini menyerupai Kesawan Square di Medan yang menempati Jalan Ahmad Yani. Bukan hanya menjadi tempat berburu makanan lezat, tapi juga menjadi tempat nongkrong warga Solo di malam hari. Sigit (26), misalnya, nyaris tiap malam ia ke tempat ini.
Beragam makanan sudah ia coba, dari makanan berat seperti mi godok (mi rebus) sampai dengan cabuk rambak (irisan ketupat dengan sambal yang terbuat dari kelapa parut, kemiri, wijen, daun jeruk dan cabai), dari minuman jus sampai dengan wedang ronde (ekstrak jahe yang diberi kacang sangrai dan ronde - bulatan sebesar kelereng dari tepung ketan yang berisi kacang dan gula).
“Enak untuk nongkrong, bisa makan sambil melihat-lihat orang jalan,” kata Sigit yang bisa menghabiskan waktu sampai dengan tiga jam di tempat in
i.

 
Beralaskan Tikar
Wajar saja jika seorang Sigit bisa nongkrong berjam-jam di tempat itu. Jika malam tidak disiram hujan, tempat ini menjadi pusat berkumpul warga Solo. Pukul tujuh malam saja, kursi telah terisi penuh. Tapi, jangan kehilangan akal. Tidak ada kursi, tikar pun jadilah.
“Kalau mau, gelar tikar di sini juga boleh,” kata seorang penjual makanan sambil menunjuk ruang lega di antara meja dan kursi. Tapi, tidak harus repot-repot menggelar tikar di antara meja-kursi itu, di sepanjang jalan di seberang penjaja makanan, tepat di depan PGS, tikar pun telah tergelar rapi. Memang, sebagian besar sudah ada “penghuni”-nya. Masih ada beberapa tikar yang bisa ditempati, meskipun akhirnya tempat itu pun tidak terlalu lega.
Jika telah memilih tempat duduk, giliran makanan yang harus dicari. Di Galabo, ada satu gerobak yang tidak pernah sepi, Tengkleng Klewer Bu Edi. Warung tengkleng ini sudah melegenda di Solo. Biasanya warungnya ada di dekat gerbang Pasar Klewer. Buka setiap hari pukul dua siang dan hanya bertahan paling lama tiga jam. Lebih dari tiga jam, siap-siap gigit jari karena kehabisan. Nah, di Galabo ini, Tengkleng Klewer Bu Edi bisa bertahan lebih lama.
Apa yang membuat tengkleng ini menjadi kegemaran masyarakat Solo? Rupanya cara memakannyalah yang menarik. Semangkuk tengkleng berisi bagian dari tubuh kambing yang biasanya dilewatkan, dari bagian kepala kambing yang kadang-kadang masih disertai dengan giginya, rusuk, buntut, jeroan (bagian perut), sampai dengan kakinya. Kelezatannya dapat dirasakan ketika menyeruput tulang-belulang itu, kadang-kadang di tulang itu masih ada sedikit daging yang tersisa, kadang-kadang kita hanya bisa menikmati sumsumnya saja.
Kuahnya mirip dengan sup kambing, ini pula yang menjadi kunci kelezatannya. Rasanya asin, gurih, dan pedas, ada cabai merah mengapung di atasnya.
Biasanya, semangkuk tengkleng ini dimakan dengan sepiring nasi. Namun, digadoin, atau dimakan tanpa nasi, pun sudah cukup membuat perut terisi penuh.
Malam semakin larut, tapi bukannya bertambah sepi, Galabo makin ramai dikunjungi. Tikar yang digelar di tepi jalan pun semakin panjang. Tanpa terasa, tiga jam di Galabo pun terlewatkan.


Oleh
Mila Novita-Sinar Harapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar