Senin, 10 November 2025

ADV --------Rental Car

ADHI JAYA RENT CAR
-AVANZA
-XENIA
-PANTER
-KIA PREGIO
-KIA TRAVELO
-ELF, dll
BILA ANDA MEMBUTUHKAN ARMADA......KAMI SIAP MEMBANTU.....

TELP HUNTING : (0271)7030516/081329500400
                   --------SOLOBARU--------

Selasa, 09 November 2010

Wisata Tawangmanggu


Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kecamatan ini ternama karena merupakan daerah wisata yang sangat sejuk.
Tawangmangu dikenal sebagai obyek wisata pegunungan di lereng barat Gunung Lawu yang bisa ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar satu jam dari Kota Surakarta (Solo). Tempat ini sejak masa kolonial Belanda telah menjadi tempat berwisata. Obyek tujuan wisata utama adalah Air Terjun Grojogan Sewu (tinggi 81 m). Di tempat tetirah ini tersedia berbagai sarana pendukung wisata seperti kolam renang dan berbagai bentuk penginapan. Dari Tawangmangu dapat dimulai pendakian ke puncak Gunung Lawu (Pos Cemorokandang). Selain itu, dari sini terdapat jalan tembus yang menuju ke Telaga Sarangan di Magetan lewat Cemorosewu.
Tawangmangu, hanyalah sebuah kota kecil di lereng Gunung Lawu terletak di kawasan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah berbatasan dengan Propinsi Jawa Timur. Tawangmangu berada pada arel pegunungan yang subur dikelilingi oleh hutan dan perbukitan. Namun demikian kota kecil ini telah terkenal hingga ke manca negara karena kawasan ini merupakan obyek pariwisata yang cocok untuk dijadikan pilihan saat berlibur maupun berdarma wisata.
Selain udaranya yang sejuk, keindahan alam disekitarnya tidak kalah menarik dengan kawasan lain di indonesia, terlebih lagi didaerah ini terkenal dengan produksi pertanian penghasil sayur mayur selain dari keberadaan obyek wisata Air Terjun Grojokan Sewu. Tawangmangu sendiri telah menjadi pilihan bagi orang-orang perkotaan untuk membangun villa-villa, maupun berinvestasi dengan mendirikan hotel-hotel & penginapan.
Untuk mendukung kemudahan dalam mengakses daerah ini, pemerintah telah mengusahakan perbaikan jalur transportasi dengan melakukan perawatan jalan dan pembangunan jalan baru lintas propinsi dari Tawangmangu sendiri yang berada di Jawa Tengah ke arah Magetan Jawa Timur. Dan sampai dengan saat proses pembangunan jalan masih terus berlangsung melewati perbukitan dan melintas di tengah-tengah lahan pertanian yang asri dengan pemandangan elok di kiri dan kanan sepanjang jalan baru ini. Selain pembangunan jalan, pemerintah juga telah melakukan Rebuilding secara total Pasar Tawangmangu yang tadinya berupa pasar tradisional yang kumuh, kini telah berupa bangunan megah Pasar Wisata, diharapkan dengan rehabilitasi pasar ini para wisatawan yang datang ke Tawangmangu dapat dengan mudah dan leluasa untuk berbelanja segala macam jenis oleh-oleh, maupun hasil bumi dengan lebih nyaman. Untuk itu jangan lewatkan kesempatan anda untuk berkunjung ke Tawangmangu. Ada beberapa lokasi yang sering menjadi lokasi tujuan wisatawan domestic maupun mancanegara, baik yang ada di Kecamatan Tawangmangu sendiri maupun daerah lain di sekitarnya yang dekat dapat diakses dari Tawangmangu, yaitu :
  1. Grojogan Sewu
  2. Air Terjun Pringgodani
  3. Puncak Lawu
  4. Sentra Tanaman Hias (Desa Nglurah)
  5. Bumi perkemahan
  6. Flying Fox

Senin, 08 November 2010

GALABO........


 
Kesibukan Jalan Mayor Sunaryo, Solo, berganti seiring dengan terbenamnya matahari. Tidak ada lagi kendaraan yang lalu lalang. Yang ada hanyalah jajaran penjaja makanan dengan gerobaknya serta meja-kursi bertenda yang terpasang di sepanjang satu kilometer jalan itu.

Mereka adalah para penjaja makanan lezat di kota itu, dari selat solo, sosis solo, wedang ronde, mi godok, sampai dengan tengkleng.
Galabo—Gladak (nama wilayah) Langen (kesukaan) Bogan (makanan) – pusat wisata kuliner kota Solo, nama tempat itu, diresmikan pada April lalu. Sejak peresmian itu pula, Galabo menjadi salah satu tujuan wisata orang dari luar Kota Solo. Tidak perlu repot-repot lagi, bukan, mencari makanan-makanan lezat yang tadinya terletak di tempat yang berjauhan?
Jalan Mayor Sunaryo termasuk jalanan sibuk di kota itu. Tempatnya strategis, di situ ada Pusat Grosir Solo (PGS), yang menjadi pusat belanja oleh-oleh selain Pasar Klewer, tidak jauh dari Pasar Klewer, hanya beberapa menit saja dari Keraton Surakarta, dan berbatasan langsung dengan jalan utama Kota Solo, Jalan Slamet Riyadi.
Menilik lokasinya, kawasan jajanan ini menyerupai Kesawan Square di Medan yang menempati Jalan Ahmad Yani. Bukan hanya menjadi tempat berburu makanan lezat, tapi juga menjadi tempat nongkrong warga Solo di malam hari. Sigit (26), misalnya, nyaris tiap malam ia ke tempat ini.
Beragam makanan sudah ia coba, dari makanan berat seperti mi godok (mi rebus) sampai dengan cabuk rambak (irisan ketupat dengan sambal yang terbuat dari kelapa parut, kemiri, wijen, daun jeruk dan cabai), dari minuman jus sampai dengan wedang ronde (ekstrak jahe yang diberi kacang sangrai dan ronde - bulatan sebesar kelereng dari tepung ketan yang berisi kacang dan gula).
“Enak untuk nongkrong, bisa makan sambil melihat-lihat orang jalan,” kata Sigit yang bisa menghabiskan waktu sampai dengan tiga jam di tempat in
i.

 
Beralaskan Tikar
Wajar saja jika seorang Sigit bisa nongkrong berjam-jam di tempat itu. Jika malam tidak disiram hujan, tempat ini menjadi pusat berkumpul warga Solo. Pukul tujuh malam saja, kursi telah terisi penuh. Tapi, jangan kehilangan akal. Tidak ada kursi, tikar pun jadilah.
“Kalau mau, gelar tikar di sini juga boleh,” kata seorang penjual makanan sambil menunjuk ruang lega di antara meja dan kursi. Tapi, tidak harus repot-repot menggelar tikar di antara meja-kursi itu, di sepanjang jalan di seberang penjaja makanan, tepat di depan PGS, tikar pun telah tergelar rapi. Memang, sebagian besar sudah ada “penghuni”-nya. Masih ada beberapa tikar yang bisa ditempati, meskipun akhirnya tempat itu pun tidak terlalu lega.
Jika telah memilih tempat duduk, giliran makanan yang harus dicari. Di Galabo, ada satu gerobak yang tidak pernah sepi, Tengkleng Klewer Bu Edi. Warung tengkleng ini sudah melegenda di Solo. Biasanya warungnya ada di dekat gerbang Pasar Klewer. Buka setiap hari pukul dua siang dan hanya bertahan paling lama tiga jam. Lebih dari tiga jam, siap-siap gigit jari karena kehabisan. Nah, di Galabo ini, Tengkleng Klewer Bu Edi bisa bertahan lebih lama.
Apa yang membuat tengkleng ini menjadi kegemaran masyarakat Solo? Rupanya cara memakannyalah yang menarik. Semangkuk tengkleng berisi bagian dari tubuh kambing yang biasanya dilewatkan, dari bagian kepala kambing yang kadang-kadang masih disertai dengan giginya, rusuk, buntut, jeroan (bagian perut), sampai dengan kakinya. Kelezatannya dapat dirasakan ketika menyeruput tulang-belulang itu, kadang-kadang di tulang itu masih ada sedikit daging yang tersisa, kadang-kadang kita hanya bisa menikmati sumsumnya saja.
Kuahnya mirip dengan sup kambing, ini pula yang menjadi kunci kelezatannya. Rasanya asin, gurih, dan pedas, ada cabai merah mengapung di atasnya.
Biasanya, semangkuk tengkleng ini dimakan dengan sepiring nasi. Namun, digadoin, atau dimakan tanpa nasi, pun sudah cukup membuat perut terisi penuh.
Malam semakin larut, tapi bukannya bertambah sepi, Galabo makin ramai dikunjungi. Tikar yang digelar di tepi jalan pun semakin panjang. Tanpa terasa, tiga jam di Galabo pun terlewatkan.


Oleh
Mila Novita-Sinar Harapan

Sabtu, 17 Oktober 2009

Keraton Mangkunegaran "Puro Mangkunegaran"




Keraton mangkunagaran atau yang sering disebut dengan puro mangkunegara merupakan salah satu keraton yang ada di surakarta,  terletak di pusat kota solo, antara jalan Ronggowarsito, jalan Kartini dan Teuku Umar.

Keraton mangkunegaran sendiri didirikan oleh Raden Mas Said yang Lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo pada tahun 1757 setelah penandatanganan perundingan Salatiga pada tanggal 13 Maret. Selain simbol pusat budaya, didalam Puro juga terdapat Musium yang menyimpan benda antik bersejarah dengan nilai seni tinggi seperti perhiasan untuk menari dari emas murni, topeng berbagai daerah, dan gamelan.




Ciri khas yang menonjol dari Pura Mangkunegaran, yaitu bangunan khas jawa yang berbentuk joglo dan krobangan. Pura Mangkunegaran buka mulai pukul 09.00 - 14.00, dan khusus hari Minggu pukul 09.00 - 13.00. Dansetiap hari Rabu diadakan latihan tari tradisional.

Jumat, 16 Oktober 2009

Karaton Surakarta "Surakarta Hadiningrat"




Karaton Kasunanan juga disebut Keraton Surakarta Hadiningrat, dibangun pada tahun 1745 oleh Raja Paku Buwono ke II terletak di sebelah timur kota Surakata. Karaton Surakarta adalah sebuah warisan budaya Jawa. Wujudnya berupa fisik bangunan Karaton, benda artefak, seni budaya, dan adat tata cara Karaton. Keberadaannya yang sekarang ini adalah hasil dari proses perjalanan yang panjang, dan merupakan terminal akhir dari perjalanan budaya Karaton Surakarta.

Usaha memahami keadaannya yang sekarang tidak bisa lepas dari usaha mempelajari asal usul dan keberadaanya di masa lampau. Sebab sepenggal cerita dan deskripsi sejarah suatu peristiwa kurang memberi makna yang berarti, jikalau tidak dikaitkan dengan proses dan peristiwa yang lain. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu alur yang sama akan memberikan pemahaman yang menyeluruh dan utuh dari situasi yang sama saat ini.



Dalam kajian sejarah Karaton Surakarta akan ditelusuri dan dideskripsikan latar belakang dan proses menemukan lokasi Karaton, pemindahannya, pembangunannya serta perkembangannya baik dari segi fisik bangunan maupun segi nonfisik. Deskripsi historis berdasarkan sumber informan, dokumen-dokumen karya sastra dan sebagainya diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Karaton Surakarta. Dari pengetahuan ini orang/masyarakat akan tumbuh kesadaran akan warisan budaya tersebut dan memiliki persepsi tertentu terhadap obyek tersebut.

Persepsi awal yang dapat dibentuk dari hasil kajian sejarah Karaton Surakarta ini pada gilirannya bisa menimbulkan daya tarik, memotivasi orang/warga masyarakat baik Nusantara maupun mancanegara untuk mengetahui lebih lanjut dan mendalam tentang segi-segi dari warisan budaya Karaton Surakarta tersebut. Untuk dapat mengunjunginya Karaton Surakarta Hadiningrat dibuka setiap hari kecuali hari Jum'at. Kraton dibuka mulai jam 09.00 - 14.00.

Welcome to Solo



Sejarah kota Surakarta bermula ketika Sunan Pakubuana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda J.A.B. Van Hohendorff untuk mencari lokasi Ibukota Kerajaan Mataram Islam yang baru.

Mempertimbangan faktor fisik dan non fisik, akhirnya terpilih suatu desa di tepi Sungai Bengawan yang bernama desa Sala (1746 M atau 1671 Jawa). Sejak saat itu desa Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang pesat.

Adanya Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755 menyebabkan Mataram Islam terpecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta dan terpecah lagi dalam perjanjian Salatiga 1767 menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran .

DARI fakta sejarah kota Surakarta perkembangan Surakarta pada jaman dahulu sangat dipengaruhi oleh keberadaan pusat pemerintahan Kasunanan dan Mangkunegaran, Benteng Vastenburg sebagai pusat pengawasan kolonial belanda terhadap Surakarta serta Pasar Gedhe Hardjonagoro (Thomas Kaarsten) sebagai pusat perekonomian kota.

Apabila dihubungkan akan membentuk kawasan budaya dengan Kraton Kasunanan sebagai intinya. Perkembangan kota selanjutnya berlangsung di sekitar kawasan budaya ini.